Masyarakat Indonesia Memilih Konsumsi Herbal Dibanding Obat Kimia Untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh

Selama Masa Pandemi Lebih Dari 50 Persen Masyarakat Indonesia Memilih Konsumsi Herbal Dibanding Obat Kimia Untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh.

SEMARANG – Demi meningkatkan imunitas didalam tubuh selama masa pandemi Covid -19. Terungkap lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia memilih pengobatan leluhur atau herbal yang dinilai lebih aman dan manjur. "Masyarakat kita selama masa pandemi, lebih percaya memilih pengobatan tradisional atau herbal, baik upaya promotif maupun preventif untuk meningkatkan imunitas tubuh," ungkap Dosen Prodi D-3 Farmasi Politeknik Katolik (Polteka) Mangunwijaya, Apt Septiana Laksmi Ramayani MCs kemarin.
Berdasarkan data Riskesdas Kemenkes RI pada 2010 mencatat 59,12 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi herbal untuk menyehatkan. Pada 2013 Risdakes juga mencatat 30,4 persen rumah tangga menggunakan cara tradisional untuk kesehatannya. Adapun pada 2018 Risdakes mendata ada 44,3 persen masyarakat menggunakan pelayanan kesehatan tradisional (yankestrad) baik melalui praktisi kestrad maupun upaya sendiri.
‘’Data-data tersebut menunjukkan obat-obatan tradisional semakin dipercaya oleh masyarakat. Terlebih di masa pandemi Covid-19, dimana masyarakat semakin meyakini mengonsumsi herbal merupakan cara yang aman, mudah, dan murah untuk meningkatkan daya tahan tubuh,’’ papar Septiana Laksmi Ramayani MSc.
Dia memaparkan hal itu dalam Webinar Internasional ‘’Pharmacy Challenge in Preventing and managing Covid-19 Pandemic’’, yang juga menghadirkan pembicara Dr Vetriselvan Subramaniyan (Deputi Dean at Faculty of Medicine, Bioscience, and Nursing, MAHSA University, Malaysia), Dr Apt Oeke Yunita SSi MSi (Surabaya University), dan Guruh Subagya SSi MM (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA).
Acara yang digelar virtual lewat Zoom tersebut diikuti 781 peserta dan dibuka oleh Direktur Polteka Mangunwijaya Dr Materius Kristiyanto. Dalam sambutannya, Romo Materius mengharapkan, lembaga Pendidikan Kesehatan yang bergerak di bidang farmasi ini bisa ikut berperan dalam penanganan dan pencegahan Covid-19.
Lebih lanjut Septiana mengatakan, data dari Rikesda Kemenkes berdasarkan riset tumbuhan obat dan jamu pada 2017 terungkap, Indonesia memiliki sumber alam hayati yang terdiri atas 2.848 spesies tumbuhan obat dengan 32.014 ramuan obat. Kekayaan alam yang luar biasa ini juga membuat pemanfaatan obat-obatan tradisional sebagai produk berbasis kearifan lokal terus berkembang.
‘’Ada beberapa tahap yang harus dilakukan agar obat tradisional bisa dipasarkan bebas, yakni survei kebutuhan pasar menyangkut ketersediaan bahan baku, lalu pendekatan etnobotani meliputi standardisasi, pengolahan, ekstraksi, fraksinasi. Selain itu harus melalui tahap uji praklinik hingga tiga tahap, registrasi dan pengemasan.’’
Septiana memaparkan, bahan alami yang biasa digunakan masyarakat dan banyak manfaatnya seperti kunyit, temulawak, jahe, kayu manis dan lain sebagainya bisa dikonsumsi untuk menyehatkan tubuh, namun penggunaan atau aturan pakainya harus diperhatikan. Yaitu, diminum selama dua minggu lalu istirahat satu minggu, kemudian lanjut lagi dan maksimal penggunaannya adalah delapan minggu atau dua bulan.’’
Ramuan tradisional tersebut mempunyai manfaat sebagai imunostimulan atau meningkatkan imunitas tubuh, namun jika terlalu sering atau lama dikonsumsi tanpa jeda bisa berbalik menjadi imunosupresan atau menekan imunitas tubuh. ‘’Jadi, aturan pakainya harus tetap diperhatikan, sebab kalau berlebih bukannya meningkatkan imunitas tapi malah akan menekan imunitas tubuh dan bisa menimbulkan peradangan di seluruh tubuh atau yang kita kenal sebagai badai sitokin,’’ jelas Septiana.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close