Era Millenial bisa mengikis Patriotisme dan Nasionalisme

Semarang-JM. Di dalam ekosistem Digital yang sekarang mendomisasi peradaban. Muncul istilah Generasi Millenial, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem digital itu sendiri. Karena sangat erat kesehariannya terlibat di dalamnya.
Dengan kondisi tersebut, diharapkan dapat memberikan banyak hal positif bagi perkembangan peradaban baru di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terutama dalam memahami nilai-nilai Pancasila serta rasa Nasionalisme dan Patriotisme cinta tanah air Indonesia tetap mengalir di urat nadi Generasi Millenial.
Sebab, belakangan ini generasi Millenial dianggap semakin menurun jiwa Nasionalisme dan Patriotisme, terutama pemahaman terhadap nilai–nilai Pancasila. Yang merupakan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Satu contoh adalah sikap, Mahasiswa zaman now dianggap kurang kritis dalam menanggapi isu-isu sosial yang terjadi di Indonesia.
Menyikapi kondisi tersebut, menurut Dr. Bambang Joyo Supeno, anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah. Perlu adanya evaluasi, terkait keterbukaan informasi yang selama ini sudah menyebabkan terkikisnya nilai–nilai jiwa Nasionalisme di generasi Millenial. Oleh sebab itu, perlu adanya kebijakan di mana kaum millenial perlu di tempatkan sesuai dengan porsinya atau sesuai dengan eranya.
“Di era Millenial ini adalah era pemanfaatan penggunaan tekhnologi, yang tidak terlepas dari globalisasi. Kebebasan berekspresi, berpendapat serta berkomunikasi dan lain sebagainya begitu terbuka. Hal ini dapat menyebabkan satu rentanitas yang dapat mengakibatkan pengikisan nilai–nilai rasa Nasionalisme,” jelas DR. Bambang di ruang Bahana Hotel Noorman, Semarang dalam Dialog bersama Parlemen Jawa Tengah, yang diselengarakan Tri Jaya. FM, Rabu (14/8/2019).
Secara empirik, lanjutnya, masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan tekhnologi informasi masih kurang bijaksana, sebab masih terjadi saling serang dan dapat menimbulkan konflik. Oleh sebab itu, menyikapai kondisi yang demikian, kenapa perlu dilakukan evaluasi terhadap kaum millenial sesuai porsinya dalam memanfaatkan tekhnologi informasi saat sekarang ini.
Sementara peran pemerintah sendiri, dalam meningkatkan semangat Nasionalisme di kalangan kaum Millenial adalah memberikan porsi peran pemuda lebih dominan dalam melaksanakan program-program yang ada. Karena 23,8% dari jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah adalah kaum Millenial atau kaum muda.
“Sebab dari jumlah penduduk Jawa tengah sebanyak 35 juta, 23,8% atau sekitar 8,5 juta adalah dominasi usia muda. Kondisi demikian merupakan sebuah modal untuk menanamkan nilai– nilai Nasionalisme kebangsaan, dalam setiap program kegiatan yang melibatkan kaum muda,” ujar Sinoeng Noegroho Rachmadi, Kepala Disporapar Provinsi Jawa Tengah.
Dalam setiap program kegiatan yang dijalankan bersama kaum muda, tambah Sinoeng, kegiatan kepemudaan, olahraga dan pariwisata sifatnya adalah kemitraan. Artinya, sekarang ini mengalami pergeseran sistem, yaitu Learning by doing.
“Maksudnya, sadar atau tidak mereka (kaum muda,red) mengadakan musyawarah sesuai kebutuhan mereka. Di sela–sela musyawarah yang mereka lakukan, diberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah masing – masing. Sadar atau tidak, secara tidak langsung mereka sudah mengimplementasikan nilai–nilai Pancasila. Sesuai Sila I dan ke IV,” urai Sinoeng panjang lebar.
Narasumber lain dari Untag Semarang, Dr. Prihatin Tiyanto Priagung Hutomo menyampaikan, bahwa dalam pemahaman implementasi Pancasila di lapangan terdapat ketimpangan. Sebab bisa dikatakan, walaupun orang desa tidak memahami teori tentang Pancasila, namun sudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari.
“Itu kondisi riil di lapangan. Beda dengan orang kota yang selalu mengejar teori. Maksudnya bisa dikatakan memiliki pendidikan. Yang sudah sekolah saja, ingin sekolah lagi. Dengan demikian, di desa perlu diberikan fasilitas sarana dan prasarana lebih untuk mengantisipasi moral hazard yang tejadi,” papar Prihatin.
Karena pemahaman yang diterima sepenggal– sepenggal yang diterima masyarakat yang kurang paham terkait nilai–nilai Pancasila, lanjutnya, bisa dianggap semua itu benar dan itu yang menjadi persoalan riil di lapangan saat ini.(Reso)

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close