Polkesmar Peringkat Tiga Politeknik Terbaik Se-Indonesia

BERFOTO BERSAMA : Direktur Poltekesmar Dr Marsum BE SPd (ditengah) berfoto bersama dengan para sesepuh usai Sidang Terbuka Senat Dies Natalis XXI Polkesmar, di Auditorium Kampus Jalan Tirto Agung, Semarang, Kamis.


Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (Polkesmar ) diusianya ke-21 berhasil meraih prestasi sebagai Poltekes terbaik se-Indonesia versi Webometric dan peringkat pertama terbaik di Kemenkes RI. Hal ini diungkapkan dalam Sidang Terbuka Senat Dies Natalis XXI Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (Polkesmar), Kamis (19/5).

‘’Keberhasilan ini adalah kesuksesan kita bersama dan hasil kolaborasi serta sinergitas dari semua komponen keluarga besar sivitas akademika Polkesmar, mulai dari pimpinan di Ditjen Nakes, Dinkes Jateng, dosen, tenaga pendidik, mahasiswa, alumni, dan stakeholder. Termasuk para tokoh perintis, para pendahulu, dan senior yang juga telah mengantarkan Polkesmar menjadi institusi bereputasi baik. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih,’’ kata Direktur Polkesmar Dr Marsum BE SPd MHP, dalam sambutannya, di Auditorium Kampus Polkesmar, Jalan Tirto Agung, Semarang, Kamis (19/5).
Peringatan Dies Natalis XXI bertema ‘’Transformation and Internationalization of University as Strategy of Facing Industrial Revolution 4.0, Society 5.0, and Golden Indonesia 2045’’ ini juga terasa lengkap dengan hadirnya empat para pemimpin Polkesmar sepanjang 21 tahun ini. Yakni Ilham Setyobudi SKp Mkes (2001-2008), Dr Sugiyanto SPd MAppSc (2008-2017), Waridjan SPd Akep Mkes (2017-2018), dan Dr Marsum BE SPd MHP (2018-sekarang).
Lebih lanjut Marsum mengatakan, hingga usianya yang ke-21, Polkesmar selalu berupaya ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, termasuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan membuat alat cuci tangan, hand sanitizer, membuka sentra vaksinasi di kampus dan tempat umum, membuat RS darurat dan tempat isolasi mandiri terpusat, hingga mengirimkan sukarelawan dan donasi ke daerah bencana.
Dalam kesempatan ini, Polkesmar juga meluncurkan Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu-PTM). ‘’Selama pandemi Covid-19 ini angka penyakit tidak menular terus meningkat. Hal ini akan menjadi beban bagi keluarga bahkan negara terhadap pelayanan kesehatan, maka kita harus berupaya untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan berkala agar terhindar dari risiko tinggi penyakit tidak menular, seperti diabetes, stroke, dan jantung.’’
Sementara itu, dalam sambutan virtualnya, Dirjen Nakes Kemenkes RI drg Aryanti Anaya MKM mengungkapkan, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diatasi dalam bidang kesehatan, di antaranya menurunkan angka kematian ibu hamil, melahirkan, dan bayi, stunting, serta kemandirian kesehatan masyarakat. ‘’Kemenkes telah melakukan transformasi kesehatan, di antaranya dengan melengkapi peralatan seperti USG di tingkat puskesmas agar pendeteksian ibu hamil bisa dilakukan sejak dini.’’
Aryanti juga menekankan pentingnya peningkatan pelayanan kesehatan agar pasien tidak memilih untuk berobat ke luar negeri. Apalagi, diberlakukannya AFTA 2025 akan semakin membuka lebar investor asing yang ingin membuka rumah sakit dan masuknya tenaga kesehatan dari luar negeri ke Indonesia. Hal ini juga merupakan tantangan bagi lembaga pendidikan, termasuk poltekkes untuk mencetak tenaga medis yang mampu bersaing di dunia internasional.
‘’Untuk itu, poltekkes dituntut mampu berinovasi dan mencetak SDM kesehatan yang unggul, peka terhadap perkembangan zaman, adaptif, profesional, interprofesional, dan menguasai teknologi,’’ paparnya.buka Senat Dies Natalis XXI Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (Polkesmar), Kamis (19/5). Pada usianya yang ke-21 ini atau tepatnya Februari lalu Polkesmar berhasil meraih prestasi sebagai peringkat ketiga polteknik se-Indonesia versi Webometric dan peringkat pertama poltekkes terbaik di Kemenkes RI.
‘’Keberhasilan ini adalah kesuksesan kita bersama dan hasil kolaborasi serta sinergitas dari semua komponen keluarga besar sivitas akademika Polkesmar, mulai dari pimpinan di Ditjen Nakes, Dinkes Jateng, dosen, tenaga pendidik, mahasiswa, alumni, dan stakeholder. Termasuk para tokoh perintis, para pendahulu, dan senior yang juga telah mengantarkan Polkesmar menjadi institusi bereputasi baik. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih,’’ kata Direktur Polkesmar Dr Marsum BE SPd MHP, dalam sambutannya, di Auditorium Kampus Polkesmar, Jalan Tirto Agung, Semarang, Kamis (19/5).
Peringatan Dies Natalis XXI bertema ‘’Transformation and Internationalization of University as Strategy of Facing Industrial Revolution 4.0, Society 5.0, and Golden Indonesia 2045’’ ini juga terasa lengkap dengan hadirnya empat para pemimpin Polkesmar sepanjang 21 tahun ini. Yakni Ilham Setyobudi SKp Mkes (2001-2008), Dr Sugiyanto SPd MAppSc (2008-2017), Waridjan SPd Akep Mkes (2017-2018), dan Dr Marsum BE SPd MHP (2018-sekarang).
Lebih lanjut Marsum mengatakan, hingga usianya yang ke-21, Polkesmar selalu berupaya ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, termasuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan membuat alat cuci tangan, hand sanitizer, membuka sentra vaksinasi di kampus dan tempat umum, membuat RS darurat dan tempat isolasi mandiri terpusat, hingga mengirimkan sukarelawan dan donasi ke daerah bencana.
Dalam kesempatan ini, Polkesmar juga meluncurkan Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu-PTM). ‘’Selama pandemi Covid-19 ini angka penyakit tidak menular terus meningkat. Hal ini akan menjadi beban bagi keluarga bahkan negara terhadap pelayanan kesehatan, maka kita harus berupaya untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan berkala agar terhindar dari risiko tinggi penyakit tidak menular, seperti diabetes, stroke, dan jantung.’’
Sementara itu, dalam sambutan virtualnya, Dirjen Nakes Kemenkes RI drg Aryanti Anaya MKM mengungkapkan, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diatasi dalam bidang kesehatan, di antaranya menurunkan angka kematian ibu hamil, melahirkan, dan bayi, stunting, serta kemandirian kesehatan masyarakat. ‘’Kemenkes telah melakukan transformasi kesehatan, di antaranya dengan melengkapi peralatan seperti USG di tingkat puskesmas agar pendeteksian ibu hamil bisa dilakukan sejak dini.’’
Aryanti juga menekankan pentingnya peningkatan pelayanan kesehatan agar pasien tidak memilih untuk berobat ke luar negeri. Apalagi, diberlakukannya AFTA 2025 akan semakin membuka lebar investor asing yang ingin membuka rumah sakit dan masuknya tenaga kesehatan dari luar negeri ke Indonesia. Hal ini juga merupakan tantangan bagi lembaga pendidikan, termasuk poltekkes untuk mencetak tenaga medis yang mampu bersaing di dunia internasional.
‘’Untuk itu, poltekkes dituntut mampu berinovasi dan mencetak SDM kesehatan yang unggul, peka terhadap perkembangan zaman, adaptif, profesional, interprofesional, dan menguasai teknologi,’’ paparnya.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close